Pages

Friday, April 15, 2011

Karl Marx:Tokoh yang ingin mengatur masyarakat tapi tidak mampu Mengurus Diri.



Sosok tubuhnya yang berisi dengan ketebalan janggutnya. Ia berikrar agama adalah kerosakan, bahkan diumpakan candu. Walaupun demikian, ia dipuja sepuja-pujanya oleh masyarakat yang tidak memahami hakikat kehidupan. Meskipun baginya tuhan hanyalah khayalan bagi manusia yang beragama. Ya, dia memang kesal terhadap Agama dan kepercayaan. Dengan mata kepalanya sendiri, ia telah menyaksikan ayahnya yang pengecut sebagai seorang pendeta Yahudi yang menarik kata-kata dalam pengucapannya di bidang reformasi politik hanya karena takut diperlekehkan sebagai bangsa Yahudi.
Karl Marx, seorang pengasas sejati fahaman komunis itu sudah diangkat bak dewa sejati yang banyak berkorban. Nama Karl Marx sememangnya tidak asing dari telinga kita malahan menjadi buah mulut masyarakat sama ada memujinya atau menghinanya. Ia menjadi terkenal selepas mengemukan pemikiran-pemikirannya yang luar biasa di bidang sosiologi, ekonomi, dan politik menjadi pelajaran wajib dan silubus untuk dipelajari di kampus-kampus universiti. Malahan, bukunya seperti Das Kapital dan Manifesto Komunis terlaris dan hot selling di pasaran seterusnya pemikiran-pemikirannya  diterapkan pada masyarakat. Kesannya lahir tokoh-tokoh dan masyarakat yang mendukung setia gagasan ini walaupun pada hakikatnya berlawanan dengan fitrah manusia.
Akan tetapi, ketahuilah dibalik pemujaan kepada Karl Marx dan idola bagi generasi muda di dunia terhadap seorang tokoh atheis yang membawa pemikiran ini, ada sekelumit catatan hitam darpada pengalaman pribadi Marx yang jarang diketahui orang. Saya ingin bertanya kalian: Benarkah Marx mampu mengurus masyarakat sedangkan ia tidak mampu menyelesaikan masalah di kelompok terkecil dalam masyarakat: Keluarganya!
Dalam lembaran catatan hitam tersebut, dikisahkan bagaimana gambaran kehidupan Marx selama ini. selepas ayahnya meninggal dunia, kehidupan Karl Marx  mula bergelimang dengan hutang disana-sini. Hutangnya disekeliling pinggang. Dalam kondisi yang tak terdaya ini, ia tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya menumpukan pada hutang yang menggunung tinggi sehingga menjadi sulit untuk dilunaskan dalam tempoh terdekat ditambah kondisi ketiadaan seorang ayah.
Karl Marx ingin memohon pertolongan daripad ibunya. Terlihat keadaan  ibunya yang berwajah kedut, Marx mahu menjadikan ibunya sebagai sasaran untuk melangsaikan hutangnya. Dengan nekat, Marx memberitahu ibunya yang sedang menjanda agar membantunya mengurangkan beban hutang peribadinya. Malangnya  ibunya menolak permintaan Marx agar memembantunya menutupi hutangnya yang menggunung kerana hutangnya adalah masalah peribadi bukan masalah keluarga.
Namun itu hanyalah sebuah permasalahan dari sudut negatif Marx selama ini, mari kita lihat pada usia remaja, Karl Marx seorang terkenal dalam kalangan kawan-kawan seusiannya sebagai seorang pencinta minuman. Sejak berumur 17 tahun, mulut Marx sentiasa menelan dan meratah keenakan anggur. Keseluruhan hidupnya tak terfikir sekalipun untuk serius mencari kerja demi membantu keluarga. Karl Marx mula terdapat sedikit perubahan dari aspek kewangan, saat bertemu seorang yang dikaguminya yang bekerja di bidang penerbitan.
Menurut Herry Nurdi, nama orang yang dikaguminya ialah Moses Hess. Pekerjaan Marx dalam penerbitan Hess melonjak dengan tinggi sehingga dari  pekerjaan sebagai seorang editor ia menjadi pengarah redaksi. Ia juga menjadi penyebar propaganda sosialis nombor satu ketika itu.
Menurut Marx, sudah tiba waktunya bagi pemikiran sosialisme yang dibawanya untuk menuntut dan mendesak  agar dipraktikkan tidak lagi beredar dikepompong  idea-idea. Di proses inilah, terjadi pertembungan pemikiran Marx daripada seorang teoritis  ke arah praktis.
Ketika proses inilah Marx juga bertemu seorang komunis tulen yang mendokong perjuangannya dan akhirnya menjadi sahabatnya Frederich Engles (1820-1895). Seorang sahabat yang sangat sabar dalam membiayai kehidupan Marx yang miskin dan tidak terurus sehingga akhir hayatnya.
Pada tahun 1849 sehingga akhir hayatnya, Marx hidup dalam buangan di British. Sehingga ia meninggal dunia, Marx memiliki masalah besar dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. Beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan British Museum, untuk menggali dan mengkaji  teori ekonomi dan kapital. Sehingga tidak ruang masa untuk mengunjungi keluarganya yang terbengkalai dan terbiar.
Semasa Marx menulis Das Kapital, sebenarnya kehidupan Marx berada dalam keprihatinan. Ia hidup penuh kesulitan dan terlunta-lunta. Karl Marx menelurkan konsep ekonomi tanpa memperhatikan sama sekali malahan menjeling sedikitpun tidak kepada kehidupan ekonomi keluarganya. Karl Marx bercita-cita besar agar dirinya bererti bagi masyarakat sejahtera, namun tidak sekali  mencuba dilaksanakan dikeluarganya sendiri. Si isteri begitu pilu, kehidupannya bagai perempuan sebatang kara di tengah hutan dan laksana perempuan kematian suami, tidak sedikitpun mendapat belaian kasih sayang seorang suami bernama Marx.
Malahan untuk membiayai kehidupan keluarganya pun diambil peranan oleh Frederich Engels. Engles lah yang menyalurkan dana keseluruhannya bagi menanggung kehidupan keluarga Marx. Berkat kesungguhan Engels, Das Kapital yang menjadi rujukan para komunis, boleh kita temuinya tiga jilid.
Cyril Smith dalam bukunya Friedrich Engels and Marx’s Critique of Political Economy, berpendapat bahwa sebenarnya banyak orang percaya bahwa Engels selalu gagal dalam memahami karya Marx. Setelah kematian Marx, Engels menjadi juru bicara terkemuka bagi teori Marxian dan dengan mendistorsi dan terlalu meyederhanakan teorinya, meskipun ia tetap setia pada perspektif politik yang telah ia bangunkan bersama Marx.
Menurut Paul Johnson, sebenarnya Karl Marx hanya menulis Das Kapital secara lengkap hanya di jilid pertama, sedangkan dua jilid terakhir lagi dikumpulkan oleh Engels dari surat-menyurat yang dilakukannya kepada Karl Marx. Boleh dikatakan, tanpa ketekunan Engles  mungkin nama Karl Marx akan terjerumus dalam status seorang pendedam dan pemarah tanpa mapu menyelesaikan tugasnya sendiri.
Setelah Marx menyiapkan jilid pertama dari Das Kapital, pada tahun 1867, kondisi kesihatan Karl Marx menurun drastik. Tokoh Yahudi tersebut mengalami tingkat kesihatan yang terburuk dalam hidupnya. Marx berada dalam situasi penuh kesulitan untuk menyiapkan buku Das Kapitalnya.
Dalam bukunya, Intellectuals, Paul Johnson juga mengambarkan pada aspek yang lain iaitu emosi  Karl Marx. Digambarkan bagaimana jatidiri Marx selama ini tidak lebih daripada dihiasi sifat pentingkan diri sendiri, kaki botol, pemarah serta perokok tegar. Kita lihat pendapat isterinya tentang Marx, jika saya masuk ke kamarnya, mata saya akan berair kerana asap rokok yang bergumpal-gumpal di dalam bilik Marx. Keadaannya kotor dan diselimuti debu, malahan untuk duduk saja di kamarnya adalah suatu perkara yang menjijikan.
Gaya hidup seperti ini telah memburukkan dirinya sendiri. Ia seorang yang sangat jarang membersihkan diri dengan mandi-manda, bahkan hanya sekadar mencuci muka. Ia tidak memiliki pengurusan waktu yang  jelas lagi sistematik bila dia tidur dan bila ia bangun. Tambahan Karl Marx pernah ditangkap polis karena melakukan kekerasan dan menggunakan pistol akibat emosinya yang tidak terkawal. Diceritakan ia, melakukannya dalam keadaan tidak sedar atau sedang mabuk. Marx memang bukan penagih alkohol, tapi di dalam bukunya Paul Johson mengatakan bahwa Marx memiliki jadual rutin untuk berminum minuman keras.
Isterinya mati pada tahun 1881, dan anak perempuannya pada tahun 1882 dan Marx sendiri meninggal dunia pada  tahun 1883. Karl Marx seorang yang yang tak mampu mengatur dirinya sendiri tetapi berusaha mengatur masyarakat melalui ekonomi, politik, bahkan sosiologi. Ganbarnya digantung di tembok-tembok sekolah sebagai sosiologis sejati. Ironis. (pz)
Referensi 
Herry Nurdi, Membaca Karl Marx Dengan Kaca Pembesar, Jurnal Islamia Vol III No. 2
Paul Jonshon, Inttelectuals: FromMarx to Tolstoy, Sartre and Chomsky. Ebook
Michael H. Hart. Seratus Tokoh Orang Paling Berpengaruh di Dunia. Ebook

No comments:

Post a Comment

Undi Anda adalah Rahsia